Kolaborasi Lintas Kampus, Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, dan Praktisi Dorong Pengembangan Eco-Batik untuk penguatan Eco-Tourism di Kampung Batik Giriloyo

Bantul, 25-26 Juli 2026 - Sebanyak empat perguruan tinggi berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Bantul dan komunitas pengrajin batik dalam Focus Group Discussion serta pemetaan potensi wisata di Kampung Batik Giriloyo, Bantul, Yogyakarta, pada 25-26 Juli 2026. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini merupakan rangkaian dari program penelitian Bestari-Saintek 2026. didanai oleh Kemendiktisaintek dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dengan judul penelitian "Inovasi Desain Batik Ornamentik Berbasis Budaya Lokal dengan Pendekatan Community-Based Participatory Research Living Lab: Sinergitas Strategi Penguatan Eco-Tourism dan Pengembangan Pusat Literasi Eco-Batik di Kampung Batik Giriloyo, Yogyakarta."

 

Penelitian multidisiplin ini diketuai oleh Dr. Sugeng Wardoyo, S.Sn., M.Sn., dosen Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dan melibatkan tim peneliti dari ISI Yogyakarta, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata API Yogyakarta, Universitas Sebelas Maret Surakarta, serta Poltekkes Kemenkes Semarang. Kolaborasi antar perguruan tinggi ini menghadirkan keahlian dari berbagai bidang, yakni seni dan desain, manajemen pariwisata, pendidikan, serta kesehatan masyarakat, untuk merumuskan pendekatan terpadu dalam pengembangan eko-batik ataupun eko-wisata yang inovatif, inklusif, dan berkelanjutan.

 

Penelitian ini menggunakan pendekatan Community-Based Participatory Research Living Lab yang menempatkan masyarakat lokal sebagai mitra aktif dalam seluruh tahapan penelitian, mulai dari perumusan masalah, pengumpulan data, analisis, hingga implementasi dan diseminasi hasil. Pendekatan ini memungkinkan perumusan solusi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal, serta dapat diimplementasikan secara langsung oleh masyarakat. Ketua peneliti menjelaskan bahwa pemilihan pendekatan ini didasarkan pada kebutuhan untuk menciptakan riset yang tidak berhenti pada tataran akademis, melainkan menghasilkan dampak nyata bagi pengrajin batik maupun pengelola wisata di Giriloyo. 

 

Focus Group Discussion pertama bertajuk "Pengembangan Inovasi Desain Ornamen Batik dan Tata Kelola Eco-Tourism." Diskusi ini dipandu oleh Setiawan Priatmoko, M.M., Ph.D., dengan menghadirkan narasumber utama Karman, A.Md., dari Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, serta Danang Priyanto, S.Tr.Sn., M.Sn., dari ISI Surakarta. Dalam sesi ini, Karman memaparkan kebijakan pemerintah daerah terkait pengembangan pariwisata yang selaras dengan pelestarian ekologi lingkungan sekitar. Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul telah menetapkan ekowisata sebagai salah satu prioritas pengembangan destinasi wisata, terutama di wilayah Kampung Batik Giriloyo. Sementara itu, Danang Priyanto menyampaikan gagasan mengenai pengembangan desain ornamen batik yang inovatif tanpa meninggalkan nilai kelestarian. Menurutnya, inovasi desain tidak boleh sekadar mengejar tren pasar, melainkan harus mampu bercerita tentang kekayaan alam lokal dan kearifan budaya setempat.

 

Peserta Focus Group Discussion yang terdiri dari pengrajin batik, paguyuban batik, dan akademisi menekankan pentingnya desain batik yang mampu bercerita tentang kekayaan alam lokal, tata kelola eko-tourism yang melibatkan masyarakat dari hulu ke hilir, serta kolaborasi lintas sektor sebagai fondasi utama pengembangan ekosistem batik serta eko-wisata yang bersanding dengan kelangsungan lingkungan ekologi sekitar. Rumusan tersebut dinilai menjadi pijakan penting bagi tindak lanjut program berikutnya untuk memperkuat daya saing eko-batik dan eko-wisata di Kampung Batik Giriloyo.

 

Focus Group Discussion kedua bertajuk "Literasi Eco-Batik dan Manajemen Branding Eco-Tourism." Kegiatan ini dipandu oleh Ilmi Cahya Fabilla Surachman selaku moderator, dengan menghadirkan dua narasumber ahli, yakni Dr. Candradewi Wahyu Anggraeni, M.Pd., sebagai akademisi literasi edukasi, dan Nida Urrahma Hidayati, S.M., M.M., sebagai akademisi manajemen branding pariwisata. Dr. Candradewi menekankan bahwa literasi bukan sekadar penyampaian informasi, melainkan juga pembentukan perilaku edukatif. Edukasi tentang eko-batik harus dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan generasi muda sebagai agen perubahan. Nida Urrahma Hidayati menyampaikan strategi membangun citra merek ekowisata yang kuat, autentik, dan berdaya saing. Ia menegaskan bahwa branding bukan sekadar logo, melainkan janji dan pengalaman yang harus selaras dengan prinsip keberlanjutan. Wisatawan saat ini semakin kritis dan mencari pengalaman autentik yang tidak merusak lingkungan, sehingga citra merek yang dibangun harus mencerminkan komitmen nyata terhadap pelestarian alam dan budaya. 

 

 

Dalam sesi diskusi, peserta menegaskan pentingnya edukasi nilai ekologis yang dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan generasi muda, perlunya branding ekowisata yang jujur dan didukung standar keberlanjutan, serta pentingnya kolaborasi pengrajin, pemerintah, dan akademisi dalam memperkuat literasi eko-batik. Rumusan tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan Rencana Tindak Lanjut.

 

Kegiatan terakhir yaitu pemetaan paket wisata sebagai bagian dari tindak lanjut penguatan eco-batik dan eco-tourism. Langkah ini menghasilkan rumusan alternatif tawaran paket wisata baru yang berbasis penguatan lingkungan alam sekitar dan mempertahankan nilai tradisi lokal. Beberapa alternatif paket wisata yang dirumuskan antara lain paket tanam warna alam yang mengajak wisatawan menanam tanaman penghasil warna alam untuk pewarnaan batik, paket ekstraksi warna di mana peserta belajar proses ekstraksi pewarna alami dari berbagai sumber tumbuhan, paket batik cap yang memberikan pengalaman membatik dengan teknik cap, paket walking tour yang mengintegrasikan pengalaman budaya dan interaksi dengan pengrajin, serta paket kreasi keychain atau cinderamata sebagai aktivitas kreatif membuat suvenir batik. Keberagaman paket ini juga membuka peluang bagi wisatawan dengan minat dan durasi kunjungan yang berbeda untuk menikmati kekayaan budaya dan alam Giriloyo.

 

Ke depan, pengembangan eko-batik ataupun eko-tourism di Kampung Batik Giriloyo diproyeksikan akan terus diperkuat melalui berbagai program lanjutan. Kolaborasi dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul juga akan diperluas untuk memasarkan paket-paket wisata baru yang dirumuskan. Penguatan kelembagaan paguyuban batik serta peningkatan kapasitas pengrajin dalam pengelolaan usaha juga menjadi bagian dari agenda jangka panjang penelitian ini. Dengan seluruh upaya tersebut, Kampung Batik Giriloyo diharapkan bukan hanya bertahan sebagai sentra batik tulis tertua di Yogyakarta, tetapi juga bertransformasi menjadi destinasi ekowisata unggulan yang mengintegrasikan pelestarian budaya, pemberdayaan ekonomi, dan kelestarian lingkungan.

 

Penulis: Wulan & Aryo