Berita

Kemenparekraf Kerjasama Dengan Microsoft Lindungi HaKI

Senin Kliwon, 17 Maret 2014 11:49 WIB 1078

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melakukan berbagai langkah dalam rangka pengembangan sektor ekonomi kreatif, salah satu upayanya adalah melakukan perlindungan terhadap Hak Kekayaan Intelektual (HaKI). Dalam program perlindungan terhadap HaKI tersebut, Kemenparekraf menggandeng Microsoft, sebuah perusahaan bidang software yang memiliki banyak pengalaman dalam mengembangkan berbagai hal berkaitan dengan software dan komputer. Melalui kerjasama ini, Kemenparekraf akan mendukung program-program Microsoft mengenai perlindungan hak cipta untuk industri kreatif , khususnya untuk sub industri yang bersangkutan dengan pengembangan Piranti Lunak dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). “Kerjasama ini dimaksudkan sebagai upaya perlindungan terhadap HaKI. Dasar pemikiran dari program ini adalah bahwa musuh terbesar dari sektor ekonomi kreatif adalah pelanggaran hak cipta. Maka, Kemenparekraf bekerjasama dengan Microsoft akan melakukan berbagai upaya terkait hal tersebut, antara lain sosialisasi kepada masyarakat dan pelatihan yang diberikan kepada pelaku kreatif,” jelas Menparekraf, Mari Elka Pangestu usai acara penandatanganan MoU di Kantor Kemenparekraf, Rabu 12 Maret 2014. Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dilakukan oleh Ukus Kuswara dalam kapasitasnya sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia dan Andreas Diantoro dalam kapasitasnya sebagai Presiden Direktur Microsoft Indonesia, yang disaksikan oleh Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia dan Cesar Cernuda, President Microsoft Asia Pacific. Dilanjutkan Mari, perlindungan yang dilakukan Kemenparekraf ini dirasa perlu dilakukan mengingat kekuatan sektor ekonomi kreatif terletak pada kreatifitas pelakunya. Maka, dapat disimpulkan bahwa pelanggaran hak cipta yang banyak terjadi dalam dunia digital dapat menyebabkan nilai ekonomi sebuah karya yang dihasilkan akan berkurang. Untuk menanggulangi hal tersebut diperlukan dukungan berbagai pihak, termasuk pelaku kreatif dan masyarakat. Perlindungan hak cipta penting untuk menumbuhkan daya kreasi masyarakat. Pelanggaran terhadap HaKI nantinya akan membunuh daya kreasi dan pada akhirnya akan merugikan masyarakat secara keseluruhan, karena kita akan kehilangan proses dan produk kreatif. “Sampai saat ini, Kemenparekraf sedang dalam proses melakukan berbagai sosialisasi mengenai perlindungan HaKI, salah satunya adalah sosialisasi yang dilakukan dalam sarana pendidikan atau sekolah. Disini, hal yang pertama kali dilakukan adalah mengubah pola perilaku pembeli sehingga diharapkan perilaku pelanggaran hak cipta terus berkurang dan akhirnya tidak terjadi lagi. Selain itu, program ini juga mendapat dukungan dari Orang Kreatif (OK) berupa partisipasi dalam pelatihan untuk mengembangkan Teknologi Informasi (TI) serta mengembangkan bisnisnya. Itulah esensi dari MoU yang kami lakukan,” lanjut Menparekraf lagi. Nantinya, pelatihan yang terkait dengan program perlindungan HaKI ini akan dilakukan sesuai kebutuhan. Selain itu, Kemenparekraf juga akan terus melatih komunitas kreatif yang sedang dibina, beberapa diantara sudah bergerak dalam bidang start up di bidang TI. Mengenai pelanggaran HaKI, Kemenparekraf juga akan mendorong agar ada regulasi yang mengatur hak cipta seperti yang saat ini sedang disiapkan yakni rebisi UU Hak Cipta, sehingga memastikan ada dasar hukum untuk hak cipta, sehingga terwujudlah penggunaan karya kreatif yang bertanggung jawab oleh konsumen atau masyarakat. Senada dengan Mari, Cesar Cernuda, Presiden Microsoft Asia Pasific mengatakan bahwa perlindungan terhadap HaKI akan menjadi sebuah program yang menarik di Indonesia, negara yang memiliki penduduk dengan aktifitas sosial media dan mobilitas internet cukup tinggi. “Microsoft mendasarkan usahanya pada penciptaan teknologi baru yang inovatif dan berguna, selanjutnya mengkomersialisasikan hasil penciptaan dalam bentuk fitur, produk, dan jasa yang meningkatkan produktivitas dan memberikan nilai bagi pelanggannya. Microsoft berinvestasi lebih dari US$ 9 miliar per tahun di bidang Research & Development untuk memajukan upaya-upaya ini, dan salah satu pemegang terbesar kekayaan Intelektual di dunia, dengan lebih dari 11.200 paten di AS dan lebih dari 4.600 paten di negara-negara lain. Karena itu, adalah kewajiban moral Microsoft untuk bersinergi dengan Pemerintah Indonesia dan mengedukasi masyarakatnya agar lebih menghormati dan melindungi properti intelektual innovator dari negeri sendiri,” kata Cesar. Diharapkan, kerjasama antara Kemenparekraf dan Microsoft yang mengedepankan pengembangan industry kreatif dan generasi muda Indonesia ini akan memberikan harapan baru serta rasa aman bagi pelaku kreatif dalam menghasilkan karya cipta berbasis kreatifitas atau ide serta akan menyusun framework/Guiding Principles untuk perlindungan hak cipta yang layak di dukung dan di tegakkan oleh Kepemerintahan. (sumber : Puskompublik, Parekraf.go.id)