Berita

Eksistensi Ilmu Pariwisata dan Program Studi Strata Satu (S1), Meningkatkan SDM Kepariwisataan Indonesia

Kamis Kliwon, 20 Februari 2014 07:49 WIB 1347

Dalam rangka mendukung Sumber Daya Manusia (SDM) Pariwisata yang berkualitas, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama dengan Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata (ICPI), menggelar workshop eksistensi ilmu kepariwisataan dan program studi strata satu (S1) kepariwisataan guna menelaah kembali kebijakan pemerintah dan koordinasinya dengan stakeholder pariwisata, dalam upaya merawat, menumbuhkan, dan mengembangkan eksistensi Ilmu Pariwisata secara berkelanjutan. Melalui sambutannya Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu menjelaskan bahwa “dengan adanya workshop ini semoga mendapatkan pencerahan tentang arah kebijakan pengembangan program studi pariwisata di perguruan tinggi Indonesia dan ospek pengembangan pendidikan pariwisata di masa yang akan datang. Menjadi momen yang sangat penting untuk kita mengetahui apa yang menjadi pemikiran pada bidang industri dan tentunya harapan kita mengenai pentingnya pariwisata sebagai ilmu, ilmu yang berdiri sendiri bukan dari ilmu yang turunan dari ilmu lain” ungkapnya Kamis, 13 Februari 2014 di Balairung Soesilo Sudarman, Gedung Sapta Pesona. Berkaitan dengan pertumbuhan pariwisata, Mari juga mengungkapkan “bahwa jumlah wisatawan internasional tumbuh pesat dari hanya 277 juta pada tahun 1980, menjadi 674 juta sampai tahun 2010, dan mencapai 1,087 milliar wisatawan pada tahun 2013 atau tumbuh 5% (bertambah 52 juta) dibanding tahun sebelumnya. UNWTO memperkirakan dalam kurun waktu 2010-2030 wisatawan internasional akan tumbuh rata-rata sekitar 43 juta setiap tahunnya, sehingga diperkirakan akan ada 1,809 milyar wisatawan internasional yang bepergian ke seluruh dunia pada tahun 2030”. “Pariwisata harus melakukan perencanan yang baik, dilakukan Planning dan Management dari tempat-tempat pariwisata, dan untuk membangun pariwisata yang berkelanjutan dan bertanggung jawab diperlukan SDM pariwisata profesional di semua tataran. Pemenuhan akan kebutuhan SDM pariwisata profesional tak cukup melalui sertifikasi tenaga kerja pariwisata dan pendidikan vokasi, tapi juga melalui jalur pendidikan akademis baik pada tingkat S1, S2 maupun S3, kita harus punya ilmu vokasional dan terapan yang kuat” ungkap Mari. Dalam hal ini Kemenparekraf bekerjasama dengan Lembaga Sertifikasi Nasional Profesi Pariwisata sudah melakukan sertifikasi profesi terhadap tenaga kerja bidang pariwisata. Namun kebutuhan SDM pariwisata tidak hanya yang terampil sebagai tenaga teknis atau hospitality dan pariwisata, tetapi juga di bagian teknokrat, akademisi/peneliti, perencana, dan tenaga professional lainnya. Sebagai catatan, pada tahun 2013, daya saing kepariwisataan Indonesia secara keseluruhan membaik peringkatnya. Pada tahun 2013, Indonesia berada pada peringkat ke 70 dari 140 negara berdasarkan World Economic Forum (WEF) dalam laporan Travel and Tourism Competitivenes 2013. "Ini artinya kita harus terus meningkatkan kualitas SDM kepariwisataan kita apalagi menjelang dilaksanakannya ASEAN Economic Community pada tahun 2015," kata Mari. “Tentunya kita harus memperkuat eksistensi keilmuan pariwisata melalui program studi S1 pariwisata dimasa yang akan datang untuk mewujudkan ilmu kepariwisataan yang mandiri, sehingga nantinya dapat menghasilkan SDM pariwisata yang kompeten seiring dengan perkembangan industri pariwisata di Indonesia yang terus menggeliat” ungkap Menparekraf. Ilmu Pariwisata bukanlah ilmu yang hanya untuk senang-senang namun juga dapat menjadi ilmu yang dapat memberikan keuntungan baik itu dari segi ekonomi atau lapangan kerja. Dengan demikian, diharapkan semakin banyak pelaku pariwisata di Indonesia yang memiliki kualifikasi yang kompeten. Selain itu, pelaku bersertifikasi juga diharapkan semakin banyak. (Puskompublik-parekraf.go.id)