Berita

Beberapa Hal Penyebab Orang Asia Kalah Kreatif Dibanding Orang Barat

Kamis Wage, 21 Maret 2013 09:46 WIB 1007

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Ng Aik Kwang (University of Queensland) dalam bukunya “Why Asians Are Less Creative than Westerns” (2001), penyebab orang Asia pada umumnya menjadi kalah kreatif dibanding orang Barat antara lain sebagai berikut: a. Bagi orang Asia, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lainnya). Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) tidak dihargai. Sebagai akibatnya, bidang kratifitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap lebih cepat bisa menjadikan seseorang untuk memiliki kekayaan banyak. b. Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada cara untuk memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila cerita, novel, sinetron atau film yang disukai adalah yang bertema orang miskin menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan tema sejenis. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun kemudian dapat ditolerir/diterima sebagai sesuatu yang wajar. c. Bagi orang Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis “kunci jawaban” dan bukan pengertian. Ujian Nasional, tes masuk perguruan tinggi dan sebagainya, semua berbasis hafalan. Hingga tingkat sarjana pun, mahasiswa diharuskan hafal rumus-rumus ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya, bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus-rumus tersebut. d. Karena berbasis hafalan, maka di sekolah-sekolah di Asia murid dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi “Jack of all trades, but master of none” (tahu sedikit tentang banyak hal, tetapi tidak menguasai apapun). e. Karena berbasis hafalan pula, banyak pelajar Asia yang bisa menjadi juara dalam olimpiade Fisika dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada orang Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas. f. Orang Asia takut salah dan takut kalah. Karena itu sifat eksploratif untuk memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil risiko menjadi kurang dihargai. g. Bagi orang Asia bertanya artinya bodoh. Maka rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah. h. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar/workshop, peserta jarang mau bertanya, akan tetapi setelah sesi berakhir, peserta datang mengerumuni guru/narasumber untuk minta penjelasan tambahan. Dikutip oleh Drs. Walkodri, M.Si (Kabid. Pemasaran dan Kemitraan) dalam Musda KNPI. Disarikan dari makalah oleh Dr. Arqom Kuswanjono, yang bersumber dari www.idearesort.com/trainers/T01.p