Berita

PAK HARTO; AKTOR SERANGAN UMUM 1 MARET 1949 DI YOGYAKARTA

Rabu Wage, 6 Maret 2013 09:16 WIB 1838

Pemugaran Rumah Kelahiran Pak Harto Sebagai upaya agar generasi pelanjut sejarah tidak kehilangan jejak Pak Harto sebagai aktor sejarah serangan umum 1 Maret 1949 terhadap penjajah kerajaan Belanda, maka telah dilakukan upaya pemugaran kembali rumah kelahiran Pak Harto di Desa Kemusuk Yogyakarta. Upacara peresmian yang menandai telah selesainya pemugaran, sekaligus meresmikan tempat tersebut sebagai tempat Kajian dan Memorial Jenderal H.M. Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia, dilaksanakan pada 1 Maret 2013 bertempat di Dusun Kemusuk Lor, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul. Bertindak sebagai panitia pemugaran adalah H.R. Probosoetedjo. Hadir dalam upacara tersebut sebagai undangan antara lain; Wakli Bupati Bantul, Disbudpar Kab. Bantul dan Dinas-dinas lain, Jajaran Muspida dan Muspika, serta tokoh- tokoh masyarakat lainnya. Dalam kesempatan tersebut, dinyatakan kembali peran besar Pak Harto dalam perjalanan sejarah kemerdekaan RI yang tertuang dalam tulisan singkat dari Ahmad Mansyur Suryanegara dengan judul PAK HARTO; AKTOR SERANGAN UMUM 1 MARET 1949 DI YOGYAKARTA, yang telah kami nukil sebagaimana berikut. Kilas balik sejarah Pak Harto Pak Harto sebagai aktor sejarah berangkat sebagai seorang anak desa. Beliau lahir di Dusun Kemusuk, Yogyakarta pada tanggal 8 Juni 1921 dari pasangan Kertosudiro dan Sukirah, keluarga petani yang tidak memiliki sejengkal tanah sawah. Memang, bagi sebagian orang yang sering melakukan kontemplasi terhadap hakikat peristiwa sejarah, justru banyak para aktor sejarah perlawanan terhadap penjajah yang terlahir di desa yang tertindas. Beberapa di antaranya yang dapat diambil contoh adalah Panglima Besar Jenderal Soedirman, Kolonel Gatot Soebroto, Bambang Soegeng, dan Pak Harto sendiri. Pak Harto Aktor Sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949 Proklamasi 17 Agustus 1945 memang terjadi di Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Akan tetapi kelanjutan perjuangan mempertahankan dan menegakkannya beralih ke Yogyakarta. Tanggal 16 Oktober 1945 terjadi “Kudeta Tak Berdarah”. Kabinet Presidensil diganti Kabinet Parlementer dengan Sutan Sjahrir sebagai Pedana Menteri. Pada saat itu tentara sekutu mulai mendarat dengan tentara NICA yang berusaha menggagalkan Proklamasi, sehingga timbul perlawanan di daerah-daerah. Pendaratan tentara sekutu di Jakarta mendorong presiden, wakil presiden serta para Menteri dari Kabinet Sjahrir dipindahkan ke Yogyakarta. Tanggal 3 Juni 1946 terjadi Kudeta PKI pimpinan Datuk Tan Malaka. Dalam peristiwa tersebut Pak Harto berhasil menggagalkan upaya penculikan PKI terhadap Presiden Soekarno dan Wapres. Moh. Hatta. Pada situasi demikian Belanda melancarkan Aksi Militer I. Setelah gagalnya perundingan Renville tahun 1948, terjadi upaya Kudeta PKI di Madiun (19 September 1948). Situasi ini juga dimanfaatkan Belanda untuk menduduki Ibu Kota Yogyakarta dengan Aksi Militer II. Presiden dan Wapres beserta beberapa menteri ditangkap dan dibuang ke Bangka. Namun Presiden Soekarno telah member perintah kepada Sjafrudin Prawiranegara untuk membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia, sementara Panglima Besar Soedirman tetap memimpin gerilya. Dalam rangka menarik kembali perhatian dunia internasional terhadap keberadaan Negara Republik Indonesia, Panglima Besar Soedirman dan Mr Wongsonegoro serta beberapa tokoh militer; yaitu Bambang Goeritno dan Letkol Sarbini Martodihardjo merencanakan serangan frontal terhadap tentara pendudukan Belanda. Serangan ini direncanakan dilaksanakan pada 1 Maret 1949 di Yogyakarta dengan ditunjuk sebagai pemimpin serangan adalah Letkol. Soeharto (Pak Harto). Peristiwa serangan 1 Maret 1949 tersebut ternyata dapat membuka mata dunia internasional bahwa RI dan TNI masih eksis. Sebagai reaksi dari serangan ini, Pemerintah Kerajaan Belanda membuka kesempatan untuk dilakukan perundingan, yaitu Konferensi Meja Bundar di Den Haag, yang sebelumnya telah didahului dengan Roem Royen Statement. Dari serangkaian peristiwa di atas, kelangsungan keberadaan Negara Republik Indonesia mengalami beberapa perubahan. Diawali dengan terbentuknya RIS (Republik Indonesia Serikat) hingga kembali menjadi NKRI dengan Ir. Soekarno kembali menjadi Presiden RI. Dalam dinamika kepemerintahan RI pada masa ini, Pak Harto turut berperan dalam upaya pengembalian Irian Barat kembali ke tangan Republik Indonesia. Puncak dari dinamika (kondisi pemerintahan yang tidak menentu) ini pada tahun 1965, dengan ditandai upaya kudeta PKI tanggal 30 September 1965 yang kemudian dapat digagalkan. Setelah turut menyelamatkan Presiden dari upaya kudeta ”G 30 S”, Pak Harto memperoleh “Surat Perintah 11 Maret 1966” yang pada intinya merupakan amanat untuk mengamankan Indonesia dari ancaman kudeta PKI. Dari uraian peristiwa di atas, dapat terlihat bahwa Pak Harto telah memberikan peran sangat besar dalam sejarah perjalanan Negara RI, ditandai dengan kepercayaan 2 tokoh besar, yaitu Panglima Besar Soedirman yang memerintahkan Pak Harto untuk memimpin serangan umum 1 Maret 1949, dan Presiden Soekarno yang memberikan Surat Perintah 11 Maret 1966. Dengan telah selesainya pemugaran rumah kelahiran Pak Harto di Desa Kemusuk Lor , maka diadakan upacara peresmian tempat tersebut sebagai Tempat Kajian dan Memorial Jenderal H.M. Soeharto.