Berita

Ki Ageng Suryomentaram

Rabu Pahing, 23 Januari 2013 09:23 WIB 1274

Ki Ageng Suryomentaram memiliki nama kecil Bendara Raden Mas Kudiarmadji. Ia merupakan putra ke 55 dari Sultan Hamengku Buwana VII. Ibunya bernama Bendara Raden Ayu Retnomandoyo, putri dari Patih Danuredjo VI. Ia menempuh pendidikan pertamanya di Srimanganti. Ia pernah juga mengikuti kursus Klein Ambtenaar dan belajar bahasa Inggris, bahasa Belanda, dan bahasa Arab. Ia juga pernah bekerja di gubernemen selama dua tahun. Hobi utamanya adalah membaca hal-hal yang berkaitan dengan sejarah, filsafat, ilmu jiwa, dan agama. Ia juga pernah belajar mengaji pada KHA. Dahlan. Dalam kehidupannya, Ki Ageng Suryomentaram merasakan kegelisahan dan kekecewaan yang mengganggu pikiran dan perasaannya. Kegelisahannya disebabkan oleh karena dalam kesehariannya, di dalam keraton, ia hanya menemukan sembah, perintah, marah, dan minta. Kematian kakeknya, Patih Danuredjo VI membuatnya semakin sedih dan kecewa. Diceraikannya ibunya oleh Sultan Hamengku Buwana VII semakin menambah kekecewaannya. Kekecewaannya semakin sempurna dengan meninggalnya sang istri setelah 40 hari melahirkan puteranya. Akhirnya Ki Ageng Suryomentaram melarikan diri dari lingkungan kraton dan menjalani hidup seperti orang biasa dengan berjualan kain dan bahkan menjadi pemborong penggalian sumur. Ia juga mengajukan diri untuk berhenti menjadi pangeran kepada ayahnya, Sultan Hamengku Buwana VII tetapi tidak dikabulkan. Permohonannya untuk berhenti menjadi pangeran dikabulkan setelah Sultan Hamengku Buwana VIII naik tahta. Sejak itu pula ia menjalani kehidupan yang bebas. Ia sering melakukan tirakat di tempat sepi. Dalam perjalanan hidupnya tersebut kemudian Ki Ageng Suryomentaram menelurkan pemikiran filosofis moralistiknya yang kemudian di antaranya dikenal dengan istilah Kaweruh Begja dan Mulur Mungkret, serta Sa Nem. Makam Ki Ageng Suryomentaram berada di Dusun Kanggotan, Kalurahan Kerta, Kecamatan Pleret. Letaknya berada di sisi paling utara-timur dari kompleks makam umum di Dusun Kanggotan. Kompleks makam ini berada di belakang Masjid At Taqorrub, yang merupakan masjid peninggalan Sultan Agung ketika Sultan Agung membangun Keraton Mataram Kerta.