Berita

Pernak Pernik dari Aceh

Selasa Pahing, 24 Januari 2012 13:26 WIB 539

Berangkat dari kunjungan wisata Drs.Walkodri,M.Si (Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bantul) ke Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) selama 6 (enam) hari kerja efektif, dapat kami sampaikan beberapa informasi seputar Banda Aceh sebagai berikut ini. Situs Cagar Budaya seperti rumah adat Aceh, tempat kediaman pahlawan nasional, tokoh emansipasi wanita Cut Nya Dien, dengan kisah-kisah seputar bangunan bersejarah ini. Replika monumental tadi terletak di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Menurut petugas BP3/petugas jaga, penerima tamu-tamu yang berkunjung, menyatakan hal-hal penting dan prinsipil, tamu yang diterima dan disenangi pemilik rumah adalah dengan menerima pratanda wangi-wangian harum semerbak. Bagi tamu-tamu yang netral, tidak bermasalah dan memang tidak ada masalah, maka akan biasa-biasa saja tidak menerima isyarat apa-apa. Akan tetapi, berbeda dengan tamu-tamu yang bermasalah, maka akan ditolak alamiah, antaranya tidak dapat melihat-lihat dari dekat, bahkan tidak dapat memasuki rumah adat tersebut. Cerita tersebut didukung-dibenarkan oleh tokoh masyarakat Drs. Zulkifli Hasan, pensiunan Ass.I Pemkab Tamiang. Pemilik rumah ternyata adalah hasil kawin campur dari Padang, Minangkabau, dengan Ningrat Aceh, dan berhasil menurunkan beliaunya itu. Makamnya ada di Sumedang, Jawa Barat, prasasti nisannya sama persis dengan nisan makam HOS Tjokroaminoto di Pakuncen, Yogyakarta, selaku guru dan sekaligus mertua Sang Proklamator RI, Bung Karno. Sebagai kesimpulan, kita harus cinta leluhur bangsa, ambil pelajaran dari sejarah pejuang dan pendiri bangsa NKRI. ____ Melihat sendiri dari jarak dekat akan teramati puing-puing bekas peristiwa alam Tsunami di Aceh, semisal Sebuah Masjid Alu-Le di tepian sungai-laut, tetap utuh, berdiri kokoh, artinya pembelajaran dan pemberdayaan bagi kita generasi penerus tetaplah memakmurkan Masjid Allah dengan istiqomah, sholat wajib lima (5) waktu dijaga teratur dilaksanakan secara berjamaah. Majelis taklim, Majelis dzikir tolong menolong diantara sesama umat, sesama jamaah. Amaliah Hablum Minannas dan Hablum Minallah, diseyogyakan berimbang (balance) ikhlas karena tunduk-patuh kepada Sang Khaliq pencipta kita. Sutradara Agung, Sutradara Tunggal. Kapal milik PT. PLN yang bersandar di laut berfungsi sebagai alat pembangkit listrik bagi warga Aceh. Hal itu dilakukan dengan pertimbangan teknis dan strategis kala itu (keamanan). Kapal tersebut didorong oleh air tsunami sejauh sekitar 6 km. Namun pegawai-petugas yang tetap bertahan di dalam kapal alhamdulillah selamat dan diselamatkan Allah SWT. Sementara yang bingung dan melompat ke laut, alhasil meninggal dunia - semoga arwahnya diterima di sisi Allah SWT. Prasastinya tempat kapal bersandar terdampar sekarang dijadikan destinasi wisata (wisnus & wisman) oleh Pemda Aceh. Ziarah kubur di Makam Syah Kuala alias Abdurraub Almarhum Al maghfullah Syech Abdurraub Al Syingki, beliau hidup di abad 15, sebagai penyebar agama Islam. Makam ini unik menurut juru kunci, Abu Bakar, sewaktu peristiwa tsunami, dapat mengapung di atas permukaan air laut, selamat dari amukan tsunami Aceh. Kitab-kitab yang ditulisnya banyak di antaranya tafsir dan tasawuf diterbitkan oleh negara Timur Tengah. Peziarah yang datang banyak dari negara tetangga seperti Jiran Malaysia dan dari Provinsi Sumatera Barat (Padang). Masyarakat pemerhati memanfaatkan media syukuran dan hajat, shodaqoh di hari Senin dan Kamis. Alhamdulillah sukses. Tokoh yang mengamini adalah Dr. H. Hisyami Yazid, Lc, M.A., Drs. H. Rosyad M.A., Drs. H. M. Taslim, M.A. ___ Gunung, sebuah pengungsian, membuat Negara Cina RRC bersimpati membantu membangun kompleks perumahan. Seluruh biaya ditanggung oleh Cina. Kepedulian sosial, memang sangat menyentuh. Penulis-pelapor sempat mengamati keadaan alam, fenomena alam dari posisi ketinggian yang cukup tinggi sehingga dapat melihat keindahan kota Banda Aceh dari kejauhan indah benar, indah nian, Alhamdulillah. Sementara itu, Negara Arab Saudi menghibahkan biaya-biaya makam massal bagi korban bencana tsunami di Aceh. Peristiwa ini sebagai peringatan warga Aceh keseluruhan untuk tetap menjamin cinta damai yang lestari. Hikmahnya adalah ajaran gotong royong yang tetap terawat, hingga kini, demikian pula budaya tolong menolong sesama, patut dilestarikan guna meraih cita-cita masa depan yang lebih baik dan mempersiapkan anak cucu bangsa yang cerdas, kuat, sehat, berakhlak mulia, berkarakter Indonesia dengan tetap mencintai budaya lokal (local wisdom). Selamat berjuang, selamat bekerja keras, selamat menggapai cita-cita dengan izin dan ridho Allah SWT bagi pejuang kemanusiaan. (Mas Kodri) Banda Aceh, 18 Januari 2012